Tags

, , , , , , ,

DL0ma4kU8AA0KITAwal mengenal Edwin lewat film Babi Buta Yang Ingin Terbang. Sebuah film yang tidak pernah tayang di jaringan bioskop Indonesia namun melanglangbuana di festival-festival film dunia. Perlu baca beberapa review untuk mengetahui lebih detail dan mengerti jalan cerita film ini. Selanjutnya saya mengenal Edwin di Jakarta International Film Festival lewat film pendeknya  Perempoean Jang Dikawini Andjing yang di putar disana.

Setelah itu saya beberapa kali nonton film Edwin di Kineforum seperti Kebun Binatang serta film Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. Bagi saya, Edwin adalah sutradara film festival karena semua filmnya tidak pernah dikomersilkan dan bukan pula untuk konsumsi umum. Banyak adegan yang tidak akan lulus sensor serta scene-scene metafora yang butuh mikir. Intinya, untuk paham film-filmnya Edwin harus kejeli dalam menonton, harus bisa menganalisa, butuh baca banyak buku referensi dan harus punya imajinasi serta intuisi.

Pertengahan 2017 lalu saya mendengar kalau Edwin akan membuat film kembali setalah vakum 3 tahun lamanya. Pas liat trailernya, Eh, seriusan ini Edwin bakal bikin film remaja?! Yes, I’ve been looking out of Edwin’s movies but never expected he will interest to make film-film ala FTV remaja gini.

Tapi pas tau premisnya dari berbagai sumber online, serta ngikutin instagram Palaris Film saya jadi berpikir ulang, Posesif bakal jadi lebih dari sekedar film remaja!

Minggu lalu saya ditengah kesibukan kerja dan deadline thesis saya menyempatkan untuk menonton film Posesif. Hasilnya, This is one of masterpieces Indonesia! Film ini sukses ngangkat tema toxic relationship dari perspektif yang sungguh realistis, dengan narasi simpel tanpa ada adegan khutbah jumat ataupun iklan layanan masyarakat.

Edwin berhasil ngebedah sebuah hubungan indah tapi pedih. Menyayat sampai ke akar-akarnya.

Lala (Putri Marino) bertukar pandang mata untuk pertama kalinya dengan murid baru bernama Yudhis (Adipati Dolken) dalam sebuah adegan pembuka, dan singkat cerita mereka akhirnya berpacaran.

Pacaran mereka bukanlah pacaran cinta monyet biasa. Memang mereka mengunggah memori-memori indah di Instagram layaknya kaum milenial kekinian. Atau bertukar chat via WA menanyakan kabar. Tapi lebih dari itu, ada abusive relationship diantara keduanya.

Yudhis cemburu akan aktivitas latihan lompat indah serta kedekatan Lala dengan sahabatnya. Dan Lala yang tidak bisa lepas dari jeratan Yudhis.

Film Posesif memperlihatkan kegagalan usaha mereka mengakhiri toxic relationship. Sebab, setiap kali mereka ingin keluar dari situasi tak sehat itu, baik Yudhis maupun Lala selalu tidak berhasil. Entah itu Yudhis yang berhasil meluluhkan hatinya Lala, atau Lala yang terlalu bergantung dengan Yudhis. Hal ini yang membuat siklus abusive terus berlanjut diantara keduanya.

Ini bukan sekedar cerita tentang cinta buta dan saling menyakiti seperti biasa. Ini tentang cerita memori masa kecil, kehidupan broken home, kurang lengkapnya peran keluarga serta labilnya masa remaja. Masa dimana setiap insan belum bisa membedakan benar salah dan saat ego mengalahkan segalanya.

Penonton diajak bernostalgia akan masa SMA dengan sisi kelamnya, diajak menangis, geram, tersenyum dan ngeri membayangkan hubungan mereka kedepannya.

Edwin becerita dengan metafora khasnya, gelap dan kelam, walau disajikan dengan penuh warna khas anak sekolah.

———

Dan….
Pabila esok…datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda
Dan…perlahan kaupun lupakan aku
Mimpi burukmu…dimana t’lah ku tancapkan duri tajam
Kaupun menangis…menangis sedih
Maafkan aku

Dan…
Bukan maksudku…
Bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu… Menepikanmu
Maafkan aku….

Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala

Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala

Dan…
Bukan maksudku…
Bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu…
Menepikanmu

Maafkan aku….

Advertisements