Tags

, , ,

 

The story: Freelance graphic designer Yoon (Sunny Suwanmethanon) goes to a doctor for a rash that spreads all over his body. The doctor (Davika Hoorne) warns him that he needs to take on fewer jobs to get better, but that proves to be difficult for the workaholic Yoon.
 

“Seseorang harus tidur setidaknya 6-8 jam per-harinya”

-Menteri Kesehatan Umum Thailand

 

Heart Attack berkisah tentang ups and downs kehidupan karir dari the busiest 30 y.o freelance graphic designer in Thailand, Yoon. Sebagai seorang freelancer, Yoon hampir tidak pernah menolak setiap tawaran pekerjaan yang diberikan kepadanya karena dia tidak tahu kedepannya apakah masih akan ada pekerjaan yang menghampirinya atau tidak. Selain itu, no complaints and zero mistakes adalah sebuah keharusan supaya dia tetap dipercaya dan dikenal di industri advertising Thailand. Sound familiar, isnt it?

Yoon berpartner dengan Je, an advertising bureau producer, teman sekaligus orang yang bertanggung jawab mencarikan Yoon klien. Mungkin semacam AE kali ya. Je inilah yang sering ngeingetin masalah deadline, yang sering ngomel-ngomel kalo Yoon telat ngasih revisian, yang sering ngancem bakal gak ngasih kerjaan lagi kalo Yoon gak rapi nge-retouch ato nge-design gak sesuai brief. Je ini galak dan sedikit jutek! Tapi dibalik sikap “devil”nya itu, Je jugalah yang jadi orang terdepan ngadepin klien yang-gak-tau-maunya-apa-pokoknya-revisi, beliin makanan kesukaan Yoon pas lagi deadline dan peduli sama keadaaan/kesehatan Yoon. Berdua, mereka menghadapi industri advertising Thailand yang berat dan kejam.

Film dibuka oleh scene “adrenaline rush” Yoon yang sedang retouch beberapa foto untuk kebutuhan iklan di majalah. Dan hari itu adalah hari ketiga dia tidak tidur karena harus mengerjakannya seorang diri dengan deadline yang mepet dan revisi bertubi-tubi. Sampai akhirnya, semua kerjaan kelar di hari kelima. Dan setelah lima hari terjaga, mulai ada gangguan pada tubuh Yoon. Kulitnya terasa gatal dan muncul bentol-bentol disekujur tubuhnya. Yoon kemudian memeriksakan diri ke rumah sakit. There, he meets doctor Imm and his life is changed forever. Cliche but deep.

Film ini ditulis serta disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit, an awards winning director and inspired by his own experience of getting sick while working as a freelance writer and being overwhelmed when he consulted a doctor, who turned out to be an attractive woman. And Its dark comedy yang relevan dengan kondisi industri advertising kekinian. Saya gak terlalu kenal gimana industri advertising Thailand bekerja, tapi kalo nonton film ini kayaknya sama aja dengan apa yang sering ditulis serta dikeluhkan temen-temen di group Facebook ahensi/ex-ahensi

Ada beberapa scene yang mengingatkan saya betapa kerasnya kerja di industri advertising seperti saat Yoon dikejer deadline yang gak bisa ditawar, saat itu pula dia harus menghadiri upacara pemakaman orang tua sahabatnya. Karena dilema, akhirnya Yoon membawa laptop ke upacara pemakaman dan dia lebih sibuk nyari colokan laptop serta signal wifi demi mengirimkan revisian klien ketimbang ikut berdoa buat almarhum ayah sahabatnya. Atau ada scene saat Yoon sedang diperiksa oleh dokter dirumah sakit, dia ditelpon berulangkali oleh Je karena ada revisi dan brief baru dari klien. Bahkan pernah juga Yoon yang udah terbaring di kamar RS tetap disuruh ngelarin retouch-an foto dengan alasan “nanggung tinggal dua lagi, biar kelar semua dulu aja baru boleh sakit” Sedih…

Thamrongrattanarit sengaja memilih a skin rash to bring out the irony of such a condition in a man whose job it is to make people look perfect, tapi yang nge-retouch justru punya sakit kulit. Thamrongrattanarit juga menggambarkan keseharian Yoon yang begitu akrab dengan pelaku industri iklan, junkfood untuk nemenin begadang, minuman energi agar tetap fit, kopi biar selalu melek, mencampur minuman energi dan kopi supaya gak tidur, serta olahraga tengah malam biar bugar (?)

Melalui film ini Thamrongrattanarit tidak hanya mengkritik pola hidup gak sehat para buruh iklan tapi juga gak sehatnya industri iklan di Thailand, khususnya para freelancer yang insecure dan ditindas. Tidak ada asuransi kesehatan, tidak ada hitam putih perjanjian kerja, ancaman besok-besok gak dikasi kerjaan kalo misalkan ada kesalahan dan persaingan antar freelancer atau pekerja iklan lainnya yang begitu ketat.

Memang, pada akhirnya Heart Attack adalah sebuah film roman antara Yoon and doctor Imm, tapi melalui dialog-dialog yang smart and witty serta sedikit filosofis, strong characters dan script yang rapi, menurut saya Heart Attack adalah bentuk kritik terbaik saat ini terhadap industri iklan pada umumnya dan freelancer pada khususnya. Thamrongrattanarit seperti sedang mengingatkan kita, hidup cuma sekali, maka rayakanlah!

 

Quote

Yoon : We eat to live or we live to eat?

 

dr Imm: Whats your occupation?

Yoon: I am graphic designer

dr Imm: So, you’re around ink all the time, right?

Yoon: Not that kind, I work on computer. I do retouching

dr Imm: Something like resizing boobs for megazines?

(NGAKAKKKKK)

 

dr Imm: The bedtime pill you didnt take either?

Yoon: What you ask is too hard, its like asking me to become a monk. Who sleep at 9 PM anyway? In my profession its impossible

dr Imm: What I am asking  you to do isnt hard

Yoon: Its hard.

dr Imm: Or you work 24 hours?

Yoon: Yes

dr Imm: No weekend off?

Yoon: Nope

dr Imm: Not even sunday?

Yoon: Why take sunday off?

dr Imm: You need money that bad?

Yoon: ITS NOT ABOUT MONEY, DOC. LET ME EXPLAIN, THE FREELANCE INDUSTRY IS VERY TOUGH, WHATEVER WORK COME IN, WE HAVE TO TAKE IT OR SOMEONE ELSE WILL. IF DONT TAKE THE JOB THEY WONT HIRE ME NEXT MONTH. MY CALENDAR WILL EMPTY, I’LL BE JOBLESS.

Advertisements