Tags

, , , , ,

Maret nanti usia saya genap 29 tahun. Usia yang sudah sangat tepat untuk segera mengenakan cincin nikah di jari manis. Kakak-kakak saya cerita, di umur segitu mereka justru sedang menikmati gimana hebohnya begadang karena anak mereka yang kebangun dan rewel di malam hari. Ayah dan Ibu di rumah juga udah mulai bawel meminta saya untuk segera ke pelaminan, maklumlah anak-anaknya yang lain sudah menikah di umur 25 tahun. Keluarga besar, tante, om, ponakan dan handai taulan lainnya, bahkan tetangga yang saya tidak kenal, semua berebutan ngoceh panjang lebar plus nasehat-nasehat bijak supaya saya secepatnya mengakhiri status lajang.

Jika ditanya apakah saya akan menikah atau tidak, maka jawabannya saya saat ini adalah tidak. Atau setidaknya belum ingin. Belum terbersit keinginan sedikitpun untuk berumah tangga. Saya tidak anti pernikahan, tapi menjadi single juga tidak masalah sama sekali, bahkan saya sangat menikmati kesendirian.

Bagi saya, sendiri adalah hak. Sama halnya dengan punya pasangan. Menikah adalah bagian konstruksi sosial yang tentu saja berbeda dengan kelahiran/kematian yang merupakan bagian dari proses biologis. Menikah memang perlu, tetapi juga tidak ada keharusan, karena sendiri adalah pilihan. Pilihan untuk bebas tak terikat dan siap menjalani kehidupan mandiri.

Kalaupun seumur hidup terus sendiri lantas apa? Trus kenapa? Apakah sebuah masalah? Kenapa kesendirian seolah-olah adalah sesuatu yang sangat besar, seolah-olah dosa yang tak terampuni, seolah-olah melanggar norma masyarakat dan termaafkan oleh budaya? Kenapa saya harus terkungkung oleh dogma masyarakat dan harus mendengarkan semua ungkapan-ungkapan nyinyir jika tidak menikah akan begini begitu, maka hari tua nanti akan seperti ini seperti itu, maka kedepannya nanti akan susah untuk ini dan itu?

Pada akhirnya saya sendirilah nanti yang akan menjalani kehidupan, saya sendirilah yang akan berjuang menghadapi semua masalah dan resiko hidup. Jadi saya juga tidak harus mendengarkan pendapat-pendapat masyarakat sekitar. Toh kehidupan menikah juga sama peliknya dengan kehidupan lajang bukan? Atau mungkin malah lebih berat?

Tidak ada yang salah dengan kesendirian.

Advertisements