Tags

, , , , , ,

  • 14When an ostrich-rancher focuses on replacing his daughter’s hearingaid, which breaks right before crucial exams, everything changes for a struggling rural family in Iran. Karim motorbikes into a world alien to him – incredibly hectic Tehran, where sudden opportunities for independence, thrill and challenge him. But his honor and honesty, plus traditional authority over his inventive clan, are tested, as he stumbles among vast cultural and economic gaps between his village nestled in the desert, and a throbbing international metropolis.

    Written by David Stevens

Saya mengawali pagi di tahun 2015 dengan menonton Âvâz-e gonjeshk-hâ (The Song of Sparrows). A film by Iranian moviemaker Majid Majidi. Saya mengenal Majidi lewat film Children of Heaven (Bacheha-ye Aseman, 1997) yang baru saya tonton di sekitar tahun 2006 dan sukses membuat saya mengharu biru. Sejak saat itu, Majidi menjadi salah satu Iranian moviemaker favorit saya selain Jafar Panahi dan Asghar Farhadi. Mereka memiliki kesamaan. Simple story and no big drama but have touched our heart.12

Tidak usah berharap Âvâz-e gonjeshk-hâ akan menyuguhkan scene jedag-jedug jedar-jeder, gak bakal ada sex scene ato plot drama nan ribet. Its simple story about a simple family living in real life. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga miskin di sebuah desa di Iran yang berjuang untuk hidup di tengah segala keterbatasan dan masalah finansial dengan tetap mempertahankan moral kebaikan.

Adalah Karim, a family man- ayah dari seorang remaja putri tuli and two younger children serta suami dari seorang ibu rumah tangga sederhana. Masalah di mulai dengan alat bantu dengar anaknya yg mengalami kerusakan dan harus segera di perbaiki karena beberapa minggu lagi akan menghadapi ujian sekolah. Di saat bersamaan Karim di pecat dari tempatnya bekerja di sebuah peternakan Burung Unta karena membuat sebuah kesalahan.

Mohammad Amir Naji berperan dengan sangat baik sebagai Karim. Berkat perannya dia mendapat penghargaan sebagai Best Performance by an Actor di Asia Pacific Screen Award dan Silver Berlin Bear

Mohammad Amir Naji berperan dengan sangat baik sebagai Karim. Berkat perannya dia mendapat penghargaan sebagai Best Performance by an Actor di Asia Pacific Screen Award dan Silver Berlin Bear

13

Karim kemudian pergi ke kota Tehran dan bekerja serabutan apa saja selagi bisa untuk memperbaiki alat bantu dengar anaknya. Drama di mulai dari sini, Karim yang awalnya tinggal di pedesaan cukup kaget dengan keadaan Kota Tehran. Disinilah Karim bertarung dengan dirinya sendiri atas nama Moral. Kisah Karim berjuang mencari peruntungan di kota juga di bumbui dengan masalah-masalah internal keluarga mereka.

Sinematografi film ini banyak menyuguhkan panorama indah nan menawan negara Iran

Sinematografi film ini banyak menyuguhkan panorama indah nan menawan negara Iran

Yes deeply humanistic. Majidi bertutur dengan sangat elegan, tidak dengan dialog-dialog berat khas hollywood, atau alur njelimet khas europe movie. Majidi lewat Karim menertawakan hidup, mengkritik hidup serta memberi pesan pada yang hidup bahwa pada akhirnya moral-lah panglima dari segala kefanaan hidup. Maka, bersyukurlah pada yang memberi hidup.

Very recommended!

Foto dari berbagai macam sumber

Advertisements