Tags

, , ,

Official Poster Supernova

Official Poster Supernova

Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Ksatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama. – Wikipedia, Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh

Pertama kali tau kalau Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh akan di filmkan oleh pihak Soraya Intercine Film (SIF) saya langsung underestimate. Bagi saya pribadi, buku pertama Dewi Lestari ini adalah masterpiece yang membawa sastra Indonesia selangkah lebih maju. Cerita fiksi yang mampu membuka sekat multi disipliner dan menjembatani jurang antar ilmu pengetahuan. Pertanyaannya, apakah bisa buku ini di filmkan? Apalagi melihat track record SIF yang lebih banyak memproduksi sinetron kelas Indosiar ketimbang film bioskop berkualitas.

Bulan lalu, SIF merilis official poster Supernova. Dan, jeng jeng… posternya benar-benar mirip Hunger Games: Catching Fire. Entahlah apakah ini suatu kebetulan atau memang tim SIF terinspirasi poster Hunger Games tersebut. Yang saya tidak habis pikir, kenapa SIF tidak menggunakan cover buku Supernova saja yang begitu filosofis dan representasi dari isi bukunya sebagai official poster ketimbang bikin poster yang “emang keren sih” tapi gak kreatif sama sekali. Saya melayangkan protes via twitter kepada Dewi Lestari tapi sampai sekarang belum ada tanggapan.

poster jiplak

Okelah, masalah poster-posteran ini sudah saya lupakan. Anggap saja tim SIF lagi khilaf dan pengen banget terlihat keren sehingga gak sadar mencontek poster Hunger Games. Dan semua akan termaafkan jika SIF bisa mengeksekusi filmnya dengan baik

Semalam saya mendapatkan undangan premiere nonton Supernova. Nothing to lose saya menghadiri pemutarannya dengan meninggalkan segala isi bukunya di rumah dan mulai mengosongkan pikiran serta menjustifikasi diri sendiri jika saya belum baca bukunya. Tanpa beban, saya siap menonton apa yang disajikan oleh SIF. Tanpa ekspektasi, karena apapun jadinya nanti Supernova tetap di hati (halah…)

Dan komentar saya terhadap filmnya: keren. Saya harus bilang bagus banget untuk ukuran film Indonesia yang selama ini bertema seragam dan beralur linear. Supernova lain dari pada film Indonesia yang lain. Sinematografinya juara. Banyak long shoot cantik yang diambil dari udara. Tampaknya SIF sangat serius menggarapnya, terlihat dari settingnya yang sedikit futuristik, lokasi-lokasinya yang sangat indah, peralatan canggih dan detil-detil kecil lainnya.

Anyway untuk alur, plot, karakter, twist, narasi, dialog persis sama dengan buku. Jadi saya maklum jika banyak penonton yang belum membaca bukunya akan sedikit berkerut dengan istilah-istilah yang digunakan karena di bukunya sendiri footnote berhamburan disana-sini menghiasi halaman. Emang sih ada beberapa part yang dihilangkan dan ada beberapa porsi yang di kurangin mungkin supaya durasinya tidak terlalu panjang. Tapi saya agak sedikit heran, kenapa karakter Gio dihilangkan ya? Porsi Gio di Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh memang kecil, karena dia salah satu tokoh penghubung menuju cerita selanjutnya. Akan tetapi karakternya juga muncul di beberapa buku lanjutan Supernova. Jadi menurut saya harusnya tetap ada karena akan kesulitan nantinya mengenalkan Gio jika Supernova episode selanjutkan juga di filmkan mengingat perkenalan karakternya ada di Supernova sekarang.

Ya.. ya.. mungkin SIF punya pertimbangan lain.

Bagi saya kekurangan film ini hanya satu, karakter DIVA. Sangat mengecewakan. DIVA itu justru salah satu key person Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Cantik, misterius, berkarakter dan pintar. DIVA yang di perankan Paula Varhoeven secara fisik memang gambaran Dewi Lestari, tapi kualitas aktingnya sepertinya masih jauh banget. Ngomongnya seperti orang lagi kumuran. Gak jelas dialognya. Aktingnya seperti robot. Kaku. Saya sampai megap-megap melihatnya.

DIVA

DIVA

Untuk pemeran lainnya saya harus mengangkat dua jempol. Mereka diatas rata-rata. Apalagi Herjunot Ali yang memerankan Ferre. Dialog-dialog super panjang dengan lafaz super cepat ditambah bahasa level dewa. TOTAL!!!

Sepanjang film berlangsung saya memperhatikan mbak-mbak sebelah yang menonton dengan gelisah. Kadang dia tertidur kemudian bangun trus tidur lagi dan bangun lagi. Saat terjaga, berisiknya bukan main, sibuk nanya sama teman sebelahnya “Ini film apaan sih? Lah ini kok ngomongin segala bintang-bintangan? Aduh ngomong apa sih mereka? Descartes itu siapa? Eh itu Chaos kan katanya tadi? Chaos apaan sih? Yaolo dari tadi bahas bifurkasi-bifurkasi mulu! Jadi Supernova itu komputer? Filmnya masih lama? Kenapa adegan-adegannya di ulang-ulang? Au deh gue gak ngerti ini film apaan! Gue tidur ya, bangunin kalo udah kelar”

HAHAHAHAHA ngakak gue denger mbak-mbak sebelah. Saya maklum, pasti mbaknya belum baca bukunya atau salah satu tipikal penonton yang males mikir. Padahal menurut saya Rizal Mantovani sudah mengadaptasi bukunya jadi seringan mungkin supaya bisa di pahami oleh awam.

Dan ketika keluar bubaran film, ada gerombolan cewek-cewek yang ketawa-ketawa disamping saya, salah satu dari mereka teriak “KIRAIN FILM APAAN, EH TERNYATA FILM HOMO”

SAYA KEMBALI TERTAWA NGAKAK, PANJANG DAN LAMA. HUAHUAHUAHUAHUAHUAHUAHUAHUAHUA. Dari sekian banyak dialog cerdas dan ilmu yang berhamburan disana-sini yang di ingat oleh mereka hanya adegan homo-nya saja. HAHAHAAHAHA

Kawan… Film ini sangat layak untuk di tonton, setidaknya kalian akan tahu kalo sebelum Christopher Nolan cerita tentang Dimensi Lima di film Interstaller yg booming itu, Dewi Lestari udah duluan cerita dimensi-dimensian di bukunya Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh yg terbit di tahun 2001.

Advertisements