Tags

, , ,

10364044_10152290611132643_8118939113727258394_nTema agama emang sangat seksi buat di jual. Bukan hanya di ranah politik saja, tapi juga di industri film dan televisi kita. Lihat saja Ayat-Ayat Cinta sebuah film Islami bersetting Mesir – Indonesia yang sukses menjadi salah satu film laris abad ini. Atau jika kita lihat sinetron-sinetron beberapa tahun belakangan, simbol jilbab dan peribadatan lainnya serta lafaz arab disana-sini ada dalam banyak scene sinetron. Ya, walaupun sangat dangkal, tapi mereka mencoba menjual agama supaya laku di kalangan muslim yang mendominasi negeri ini.

Dari beberapa film yang menjadikan agama sebagai “landasannya“, ada beberapa yang saya anggap sangat berhasil bukan hanya dari segi cerita tapi juga eksekusinya. Masih inget cin(T)a? Kisah cinta beda agama mahasiswa arsitek senior-junior yang filosofis abis dengan dialog-dialog super menohok dan setingkat di atas dialog-dialog film Indonesia pada umumnya. Intelek khas anak ITB (sutradaranya merupakan lulusan terbaik Arsitektur ITB) Jadi tidaklah mengherankan jika film cin(T)a mendapat anugerah sebagai Best Original Script di Festival Film Indonesia 2009.

Atau kalian ingat Film Tanda Tanya-nya Hanung Bramantyo? Drama toleransi antara muslim-budha-kristen-cina-pribumi. Ya, seperti film-film Hanung lainnya, film ini mudah di pahami, dialog yang renyah, eksekusi yang bagus, plot yang menyentuh semua kalangan dan happy ending.

Dan film terakhir bertema pluralisme agama, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, sebuah komedi satir khas betawi tentang percintaan beda agama. Kocak, lucu dan sangat orisinil Indonesia serta mengandung makna ketuhanan yang sangat dalam.

Kemarin sore saya berkesempatan menonton salah satu film pendek yang temanya agak nyerempet-nyerempet dari ketiga film diatas di Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2014. “Maryam”.

Sidi+Saleh+Closing+Ceremony+Inside+71st+Venice+rH7m0_TiZzklSaya sudah tahu film ini beberapa bulan yang lalu karena sempat bikin heboh timeline twitter para filmmakers nusantara. Maryam menang sebagai Best Short Movie di Venice International Film Festival. Salah satu ajang film paling bergengsi di dunia. Ya, untuk pertama kalinya film Indonesia bisa masuk Venice dan menang! Suatu hal yang sangat membanggakan bagi insan film tanah air.

Maryam, film garapan Sidi Saleh ini berkisah tentang seorang pembantu Muslim-Jilbaber yang tengah hamil dan bekerja untuk keluarga Katolik. Tugasnya adalah menjaga majikan prianya (selanjutnya di film dipanggil dengan Tuan) yang mengidap Psikopatologis (autisme).

Pada malam natal, keluarga majikannya keluar kota, dan yang tersisa di rumah hanya Tuan saja. Pada suatu malam Iyam (Panggilan Maryam) diminta Tuan untuk mengantarnya pergi ke gereja karena malam itu ada malam Natal dan Tuan ingin melakukan ibadah Misa Natal. Tentu, Iyam kebingungan, pertama karena dia tidak pernah pergi ke gereja. Kedua karena dia memakai jilbab. Ketiga karena ini bukan momen ke gereja mingguan seperti biasa tapi malam hari besar umat Kristiani.

Iyam merubah bentuk jilbabnya agar terlihat seperti suster

Iyam merubah bentuk jilbabnya agar terlihat seperti suster gereja

Kebingungan-kebingungan inilah yang membuatnya canggung. Tidak hanya dia saja yang bingung tapi para jemaat juga heran melihat ada perempuan berjilbab masuk ke gereja di Misa Natal bersama seorang pria hyperactive yang gak bisa diam dan sangat berisik saat khotbah serta peribadatan berlangsung.

Lihat ekspersi jemaat di sebelahnya, sangat natural

Salah satu scene dalam gereja

Salut buat pengambilan angle gambar indoor yang sangat ciamik di film ini sehingga bisa melihat gambaran jelas wajah-wajah penuh tanda tanya dari para jamaat gereja. Yang saya tahu, pada saat syuting di gereja, scene ini memang dilakukan saat Misa Natal di gereja Chatedral dan non-scripted. Jadi wajarlah kita bisa melihat wajah bingung dan “sangat terganggu” yang natural dari masyarakat gereja melihat tingkah polah Iyam dan Tuan.

Selanjutnya saya harus memberikan dua jempol untuk karakter Iyam yang di perankan oleh Meyke Vierna dengan sangat baik. Keluguan, kepolosan serta kebingungannya sukses membuat kita tersentuh, terharu dan kasihan.

Film ini bukan hanya bicara relasi majikan-pembantu atau sekedar toleransi agama islam-kristen saja tapi lebih dalam lagi, film ini tentang makna dari imaji iman dan religi lewat simbol-simbol. Seperti saat Iyam melihat patung Bunda Maria. Bagi saya itulah momen paling kultus. Maryam yang dalam agama Islam diceritakan di Alquran dalam surat Maryam serta Maria yang dalam agama Kristen diceritakan Alkitab dalam surat Matius dan Lukas. Dan jika ditelisik keduanya berbicara tentang sosok yang sama dengan nama yang berbeda. Maryam muslim yang sedang menatap Maria kristen padahal sosok mereka berdua adalah sama, dirinya sendiri!

Simbol lainnya adalah penamaan. Panggilan Tuan yang maknanya jelas akan sangat berbeda jika ada huruf “h” ditengahnya. Serta penggunaan nama Tuan, Nyonya, dan Sinyo yang menunjukkan relasi kejumawaan dalam tradisi budaya kekuasaan. Betapa cerdasnya Sidi Saleh bertutur dalam detil-detil kecil film.

Pada akhirnya, film ini tidak bercerita tentang apa-apa selain pembantu yang menghantar majikannya ke gereja. Sidi Saleh tidak memberikan penjelasan secara gamblang, Ia mempersilahkan penontonnya untuk memaknai keteguhan iman Maryam terhadap keyakinan agama lain, serta kepatuhan Maryam akan Tuannya dan Tuhannya.

Advertisements