Tags

,

Black-CampaignSebenarnya saya sudah sangat muak dan lelah melihat seteru para pendukung presiden. Walaupun pemilu presiden sudah berlalu tapi kampanye hitam saling hasut dan menjelek-jelekan masih tetap berlangsung sampai sekarang, terutama di ranah sosial media.

Saya kasihan sekaligus prihatin dengan orang-orang yang walaupun mengeyam pendidikan tinggi tapi dengan mudah termakan isu dari media abal-abal yang tak jelas siapa yang menulis apalagi kantor redaksinya. Tulisan-tulisan anonim bernada negatif penuh fitnah serta tanpa sumber yang kredibel makin banyak wara-wiri di timeline sosial media dan anehnya malah di jadikan rujukan-para kalangan terdidik ini sebagai sumber referensi terpercaya. Bahkan, alih-alih mengkritisi tulisan tersebut, mereka ikut menyebarkan link tulisan yang penuh kebencian lagi prasangka di selingi tambahan bumbu rumor yang entah benar entah salah. Hasilnya bisa di pastikan, fitnah merajalela!

Ya, sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan metode cek dan ricek. Pokoknya, asalkan berita tersebut sesuai dengan keinginannya, maka berita itu akan dianggap benar lagi valid. Tapi misalkan berita tersebut tidak sesuai dengan keinginan dan merugikan pihak yang di bela, maka berita tersebut dianggap tidak benar, palsu dan mengada-ada. Akhirnya mereka hanya mau membaca apa yang mereka mau, jika sesuai  maka sebarkan dan jika tidak sesuai caci maki media yang bersangkutan. Benar atau tidak sudah tidak diperdulikan lagi.

Era sosial media membuat siapapun bisa menulis siapa saja dan tentang apa saja tanpa harus khawatir dengan apapun karena kebanyakan tidak menampakkan identitas aslinya. Dan banyak dari mereka sepertinya tidak peduli akan kevalidan sebuah berita dan keakuratan sebuah cerita. Hal inilah yang kemudian membuat tumbuh suburnya situs berita tak bertanggung jawab.

Memang tidak semua bersifat anonim. Ada pula orang-orang penebar fitnah penyebar benci yang terang-terangan menampakkan identitasnya. Banyak dari mereka yang membuat fans page atau komunitas sendiri. Tulisan-tulisan dan status penuh provokasi menghiasi timelinenya. Tak lupa, diselingi pula dengan info produk buku terbaru yang ditulis mereka ataupun seminar keagamaan dan pengembangan diri yang mereka adakan. Yup, ngefitnah sekaligus jual diri! Sebuah formula marketing terbaru abad ini.

Jika kita cermati, kampanye hitam dan tetek bengeknya ini muncul ketika pilpres 2014 berlangsung. Skalanya sudah di level membabi buta. Jika kampanye hitam di Amerika memainkan isu rasial kulit putih dan kulit hitam, maka di Indonesia kampanye hitam secara umum bermain di tataran agama atau sektarian. Kadang saya heran, orang-orang yang mengaku sebagai juru dakwah justru setiap hari kerjaannya tukang fitnah, dan mereka yang saya kenal sebagai ahli ibadah malah kelakuannya minus parah. Paradok!

Pilpres telah usai. Jokowi dan Probowo sudah berdamai dan berikrar saling menghargai satu sama lain. Jokowi mengapresiasi sifat ksatria Prabowo, dan Prabowo legowo akan kepresidenan Jokowi. Ya, walaupun saya tahu bakal banyak riak-riak kedepannya, tapi setidaknya mereka sudah mengakhiri perseteruan di tataran publik, Lalu, bagaimana dengan para pendukungnya? Sampai tulisan ini dibuat, provokasi terus berlangsung, fitnah keji masih merajalela menghiasi timeline sosial media kita setiap hari. Entahlah, rasa benci dan budaya rumor sudah mendarah daging di masyarakat kita. Dan mungkin karena itulah, sudah saatnya kita butuh revolusi mental.

Advertisements