Tags

, , , , , , ,

Poster Film Copenhagen

Poster Film Copenhagen

Saya menonton film Copenhagen secara tidak sengaja. Hari minggu kemarin, ketika sedang membaca negara-negara yang ada di kawasan Scandinavia saya melihat sebuah foto kawasan bergambar rumah-rumah tua yang menghadap kanal besar berdiri berdampingan satu sama lain dengan warna cat beraneka ragam. Terlihat indah dan sangat eksotis. Saya pun browsing lebih lanjut, ternyata kawasan tersebut adalah dareah pelabuhan bernama Nyhavn yang merupakan sudut kota di Copehagen, Denmark.

Dari hasil browsing, saya kemudian tahu jika baru-baru ini ada film drama yang menjadikan Copenhagen sebagai settingnya. Sebuah film Indie yang jauh dari formula Hollywood dan merupakan debut film panjang pertama dari sutradara, Mark Raso. Anyway, Mark Raso has been the recipient of numerous awards especially in short movie and when he was a student. Beruntunglah, toko DVD langganan saya ternyata sudah menjual film ini.

Copenhagen, adalah sebuah film dengan jalan cerita sederhana, tentang pemuda labil, William (28 Tahun) yang berkelilling Eropa dan mengakhiri perjalanannya di Copenhagen untuk mencari Kakek serta asal-usul keluarganya yang tidak pernah dia kenal. Selain itu, William juga memiliki kewajiban menyampaikan pesan melalui surat yang ditulis almarhum ayahnya untuk sang Kakek.

William

William

Dalam pencariannya, William di temani oleh rekannya Jeremy yang juga membawa tunangannya. Akan tetapi, karena sikap William yang sangat menyebalkan, Jeremy dan tunangannya kemudian meninggalkan William sendirian di Copenhagen. Antara takut dan bingung, William nekat memulai petualangannya sendirian, di kota yang sangat asing baginya.

Bisa di tebak, William mengalami banyak kesulitan, bukan hanya karena dia sama sekali tidak paham bahasa Denmark tapi juga sikap rasis penduduk Copenhagen yang begitu alergi terhadap wisatawan dari Amerika.

Ditengah kesulitannya, William bertemu dengan Effy (14 tahun) secara tidak sengaja lewat sebuah insiden klise. Effy menumpahkan kopi ke amplop surat William yang akan di sampaikan ke Kakeknya disebuah kafe tempat Effy magang.

Effy

Effy

Sebenarnya mereka berdua adalah pribadi yang bertolak belakang. William yang tidak sabaran, menyebalkan serta sikapnya yang kadang kekanak-kanakan dan Effy yang sedikit pemalu namun pemberani serta menyukai ide-ide liar penuh tantangan.

Mereka berdua berpetualang keliling Copenhagen demi menemukan asal-usul William. Dan William yang awalnya sangat membenci ayah serta kakeknya, kemudian beralih ikhlas serta siap menerima apapun hasil dari pencariannya setelah melakukan napak tilas ke beberapa tempat yang di yakini pernah menjadi tempat tinggal keluarganya dulu. Everything happen for a reason.

10012654_650053471710650_1972452438_o

994491_734195033296493_5033062067458106741_n

Dalam perjalanannya mereka kemudian menjadi dekat. Makin dekat dan tembah dekat. Mereka melangkapi kekurangan satu sama lain. Mereka berdua jatuh cinta, akan tetapi karena beda usia dan Effy masih di bawah umur. Mereka sadar dan berpisah. Yah, sesuai dengan taglinenya

When the girl of your dreams is half your age, it’s time to grow up

Ah, sebuah cerita manis tentang perjalanan menuju kedewasaan dari dua insan manusia. Gak menye-menye seperti film remaja lainnya. Sangat emosional apalagi ketika William di hadapkan pada sebuah pilihan: meniduri Effy yang masih SMP dan seumur hidup dia akan di cap sebagai pedofil atau menahan diri demi masa depan Effy dan dirinya. Walaupun  sebenarnya Effy merasa sudah dewasa dan sudah siap akan segala resiko-resikonya termasuk meninggalkan rumahnya, William justru bersikap sebaliknya, penuh perhitungan dan kehati-hatian menghadapi dilema ini. Sungguh sebuah scene yang briliant menggambarkan labilnya para remaja dan anak muda urakan yang menuju kedewasaan.

Saya sangat menikmati dialog-dialog renyah di film ini. Smart and witty. Karakter Gethin Antony yang memerankan William dan Frederikke Dahl Hansen yang memerankan Effy sangat kuat dengan chemistry yang sangat pas. Tidak hanya karakterisasi mereka yang kuat, script Copenhagen pun sangat orisinil dan penuh dengan kejutan. Sebuah kisah cinta menuju dewasa yang tidak biasa.

Sesuai judulnya, semua setting di film ini adalah kota Copenhagen. Seperti kata sutradara yang merangkap juga sebagai penulis, Copenhagen adalah kota romantis dengan pemandangan yang luar biasa indah. Kru film memanfaatkannya dengan sangat baik.

10672394_745706048812058_7395403938964118303_n

10694188_742411182474878_7234832646255802497_o

Sinematografi film ini sungguh sangat apik. What is so beautiful about that scene! Mereka berhasil mengambil gambar-gambar cantik baik itu keindahan alam kota Copenhagen maupun bangunan-bangunan tua dengan sejarah yang panjang. Kita akan di ajak berkeliling kota dengan naik sepeda, atau ngobrol sore di sebuah taman kota. Kita juga akan di ajak mengitari kanal-kanal dengan sungai jernih dan melihat barisan rumah berejajar rapi dengan cat warna-warni atau berpetualang ke bangunan-bangunan tua yang tersebar di kota Copenhagen.

Copenhagen, sungguhlah sebuah film yang tidak hanya menghangatkan hati tapi juga menyejukkan mata.

Pics by Facebook Copenhagen the Movie.

Advertisements