Tags

, , , ,

Saya adalah penggemar sejarah. Tak jarang saya memutuskan untuk travelling ke suatu tempat karena rasa penasaran setelah membaca buku/artikel sejarah. Salah satu topik sejarah yang menarik perhatian saya adalah Imperium Romanum (Kekaisaran Romawi Kuno) Sejarah kekaisaran Romawi kuno juga tidak bisa dilepaskan dari ritual-ritual pemujaan dewa. Hal ini sudah menjadi budaya dan tradisi di zaman tersebut. Salah satu tempat bersejarah dari pemujaan para dewa adalah Roman Bath yang terletak di Bath City, Inggris.

Roman Bath adalah sebuah kompleks pemandian air panas alami yang di gunakan oleh para raja dan penduduknya di zaman Romawi Kuno. Selain di jadikan tempat pemujaan para dewa, air pemandiannya juga di yakini sebagai penyembuh dan mampu mengobati berbagai macam penyakit. Karena sejarahnya yang begitu panjang serta keunikan arsitektur bangunannya, reruntuhan bangunan dari Roman Bath di nobatkan menjadi salah satu UNESCO World Heritage Site.

Memenuhi rasa penasaran akan Roman Bath dan sejarahnya, Saya yang sedang melaksanakan business trip di Inggris di berikan kesempatan untuk bisa berjalan-jalan ke Bath City.

Bath City adalah sebuah kota yang terletak di Sommerset, South West England (Inggris Barat Daya) atau sekitar 156 km dari kota London. Jika menggunakan kereta dari stasiun London Paddington bisa berhenti di stasiun Bath Spa dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam. Dan jika menggunakan bus bisa ditempuh kurang lebih 3,5 jam lamanya.

Tak perlu khawatir bete apalagi mati gaya karena sesungguhnya perjalanan London – Bath akan sangat memukau mata. Sepanjang jalan kita akan melihat pemandangan-pemandangan spektakuler. Saya seperti sedang berada di dunia Alice in the Wonderland ketika melihat daerah-daerah yang sedang dilalui. Lembah dan bukit hijau beserta rumah-rumah kuno. Its like fantasy land 🙂

Seperti sedang berada di setting film Alice in The Woenderland

Seperti sedang berada di setting film Alice in The Wonderland

Pemandangan hijau sepanjang jalan London - Bath

Salah satu desa yang di lalui dalam perjalanan London – Bath

Setelah tiba di Bath City. Saya kembali terpukau dengan bangunan kuno mereka yang klasik, antik dan cantik. Arstiketur bangunan yang menawan dengan latar pemandangan yang indah membuat saya berdecak kagum tiap kali melangkah.

Salah satu bangunan yang terletak di jalan utama Bath City

Salah satu bangunan yang terletak di jalan utama Bath City

Jalan utama di Bath City

Jalan utama di Bath City

Dari artikel yang saya baca, Bath City memiliki sejarah yang begitu agung. Kota Bath pertama kali didirikan tahun 43 M zaman Romawi Kuno. Awal mula nama kota Bath adalah Aqua Sulis yang berarti Kota Spa. Sulis sendiri merupakan nama seorang dewi yang di puja oleh bangsa Romawi, sehingga Aqua Sulis berarti air yang berasal dari Dewi Sulis. Karena di daerah Bath City terdapat sumber air panas alami yang berada di lembah Sungai Avon, bukit Bath, bangsa Romawi kemudian membangun tempat pemandian yang sekaligus di jadikan kuil pemujaan. Bertahun-tahun kemudian, Bath City di kenal sebagai kota spa atau kota mandi.

Sejarah kota Bath

Sejarah kota Bath

Tidaklah mengherankan jika sepanjang jalan di Bath City banyak sekali toko-toko yang menjual barang dan segala pernak-pernik pemandian. Mulai dari sabun, lotion, sampai dengan marmer lantai dan bath up kamar mandi!

Toko-toko perlengkapan mandi. Tidak terlihat jelas karena di foto dari atas buc

Toko-toko perlengkapan mandi. Tidak terlihat jelas karena di foto dari atas bus

Rumah penduduk Bath City

Rumah penduduk Bath City

Dengan sajarahnya yang sangat panjang lagi agung tak heran jika kemudian Jane Austen, novelis terkenal asal Inggris pernah bermukim di Bath City selama kurun waktu 1801-1806 dan membuat 2 novel yang berjudul Northanger Abbey dan Persuasion dengan mengambil setting di Bath City.

Oh, who can ever be tired of Bath” – Jane Austen, Northanger Abbey

‘They arrived in Bath.Catherine was all eager delight; – her eyes were here, there, everywhere, as they approached its fine and striking environs, and afterwards drove through those streets which conducted them to the hotel. She was come to be happy, and she felt happy already’ – Jane Austen, Northanger Abbey

Puas menikmati pemandangan di jalanan Bath City, saya melanjutkan tujuan ke Roman Bath. Saya sungguh penasaran apa saja yang ada di reruntungan bangunan pemandian ini sehingga bisa menyandang predikat The most Romantic Building in Britain dalam polling yang diadakan oleh RIBA (Royal Institute of British Architects).
Kompleks luar Roman Bath

Kompleks luar Roman Bath

Sebelum masuk ke Roman Bath saya terlebih dahulu mengitari komplek luarnya. Banyak banguan klasik bernuansa gothik mengapit Roman Bath. Saya sempat mampir ke gereja yang paling terkenal disana, The Abbey Church of Saint Peter and Saint Paul, atau lebih di kenal dengan Bath Abbey.

Bath Abbey

Bath Abbey

Pintu masuk Bath Abbey

Pintu masuk Bath Abbey. Liat lambang-lambang yang ada di pintu masuk, saya berasa lagi di sekolah Hogwarts. Sekolah Harry Potter 🙂

Cukup lama saya mengamati bagian luar Bath City, karena selain bangunan-bangunannya yang menawan disini juga terdapat banyak street performer, mulai dari pemain musik, atraksi tari-tarian sampai dengan patung manusia.

Salah satu patung manusia yang tidak bergerak selama berjam-jam

Salah satu patung manusia yang tidak bergerak selama berjam-jam

Setelah mengitari bagian luar, saya kemudian masuk ke Roman Bath Museum. Sesuai informasi yang di dapat, reruntuhan bangunan ini sangatlah indah menawan. Kastil tua yang berdiri kokoh dengan sangat megah. Walaupun usianya sudah ribuan tahun namun bangunan ini sangat terawat dengan baik.

Tak banyak foto yang saya ambil karena saya begitu menikmati pemandangan reruntuhan bangunan pemandian Romawi Kuno ini serta konsentrasi penuh mendengarkan informasi dari alat bantu dengar seperti walkman yang diberikan kepada para pengunjung di pintu masuk. Selain alat bantu dengar, pengunjung museum juga bisa bertanya kepada staff penerjemah berbagai bahasa yang menggunakan kostum ala-ala zaman Romawi yang sedang bertugas.

Museum Roman Bath juga menyatu dalam kompleks pemandian umum. Di museum ini terdapat banyak koleksi benda-benda jaman Romawi yang berkaitan kebiasaan ber-spa/mandi serta cara berkehidupan sosial masyarakat. Karena pada zaman itu, tempat pemandian umum tidak hanya sekedar untuk mandi tapi juga ajang bertukar informasi.

Ada salah satu koleksi magis di Museum ini. Kepala Gorgon yang dipercaya sebagai simbol Dewi Sulis. Koleksi langka ini ditemukan pada tahun 1727. Uniknya pecahan patung Goron yang dipercaya sebagai simbol dari DEWI Sulis Minerva ini adalah LELAKI. Sebuah kontradiksi.

Pecahan relief kepala Gorgon. Pecahan patung LELAKI ini dipercaya sebagai simbol DEWI  Sulis Minerva.

Pecahan relief kepala Gorgon. Pecahan patung LELAKI ini dipercaya sebagai simbol DEWI Sulis Minerva.

Puas menjelajahi bagian bawah Roman Bath, saya naik ke bagian atas. Kemudian tampaklah sebuah kolam yang sudah berwarna hijau yang di kelilingi oleh-oleh dinding berpilar besar nan megah dan di atasnya berjajar patung kaisar Romawi nan gagah. Wow, seketika saya merinding membayangkan betapa hebatnya bangsa Romawi Kuno pada zaman itu.

Menjelang makan siang, saya melanjutkan perjalanan ke bagian lain dari Bath City. Sengaja saya berkeliling berjalan kaki tak tentu arah supaya bisa menikmati indahnya kota ini. Banyak kafe-kafe lezat dan kastil-kastil tua sepanjang jalan Bath City.

Lihatlah langitnya. Biru!

Lihat langitnya. Biru!

Bangunan dan kastil tua sepanjang jalan

Bangunan dan kastil tua sepanjang jalan

Selepas makan siang disebuah restoran Fish and Chip, saya melanjutkan berkeliling-keliling seputaran Bath City sembari menunggu bus jemputan yang akan datang di sore hari. Saya ke pusat kota, berdiri di sebuah jembatan di atas sungai Avon. Terlihat jelas, Bath merupakan kota pegunungan yang indah dengan landscape hijau berbukit. Aliran sungai Avon dengan bendungan-bendungan tingginya kian menjadikan kota ini terlihat begitu gagah namun tetap bersahaja. Sayang saya tidak bisa mengabadikan keindahan lembah dan bukit Bath City karena baterai iPhone saya habis dan power bank (YESSS!!! SALAH SATU CIRI ORANG INDONESIA DI NEGARA LAIN ADALAH POWER BANK!!!) tertinggal di bus.

Bath akan selalu saya kenang. Sebuah kota yang terdiri dari perpaduan modernisasi Inggris dengan Romawi Kuno dan contoh bagaimana kota tua masih bisa terlihat indah dengan mempertahankan kemegahan bangunannya serta menjaga keindahan alamnya. Bath telah mengajarkan kalau sejarah bisa juga menjadi destinasi wisata utama.

Good Bye Bath City

*Semua foto pada postingan di atas meggunakan kamera iPhone 5*

Advertisements